PENDIDIKAN MASIH MENJADI ORIENTASI KE PEKERJAAN


Pendidikan? Pendidikan adalah hak yang harus di emban oleh setiap insan. Ketika kita memaksakan atau membatasi pendidikan setiap individu maka sama saja kita telah merenggut atau menggambil hak seseorang tersebut. Mungkin semua kita telah ketahui dari seorang tokoh pendidikan Paulo Freire, beliau mengatakan hakekat pendidikan adalah humanisasi yakni memanusiakan manusia.
Pendidikan bukan hanya kita ambil ketika berada di bangku pendidikan saja, tapi bisa kita ambil dari berbagai tempat, selayaknya kita hidup di tanah bumi pertiwi ini dengan keyakinan masing-masing. Banyak orang yang berpersepsi salah tentang leksikal dari pendidikan tersebut. Banyak orang yang terkurung dalam satu kranjang tekanan tanpa bisa mengembangkan, karena sudah terbatasi kekreatifannya dengan orientasi pendidikan yaitu pada kerja, kerja, dan kerja. Jadi dalam pikiran tersebut sudah tidak ada inisiatif lagiuntuk berkembang. Sungguh sangat ironis sekali ketika nasib generasi penerus anak bangsa seperti itu.Perkara dalam setiap individu memang berbeda, tapi semua itu bisa di integrasikan ketika kita mengusai karakteristik tiap individu. Bisa merubah momok orientasi kerja kepada orientasi untuk berkembang, tidak hanya terbelenggu dalam satu kata saja “KERJA”. Mungkin kita juga tak bisa memaksa pada setiap insan, karena setiap insan punya jalan tersendiri.
Kita yang bernotabene mahasiswa, apakah sudah sanggup menyandang gelar agent of change. Di mana kita belum bisa menempatkan pendidikan yang kita emban selama ini kepada masyarakat. Karena hal tersebut adalah salah satu isi dari Tri Darma Universitas yang dimana salah satunya kembali ke masyarakat. Apakah benar jika mahasiswa sekarang sudah bisa membangun pada masyarakat atau khalayak ramai. Akademisi sekarang ini sudah dibekukan, hanya diiming-imingi dengan beberapa fasilitas pendukung saja. Jika mahasiswa sekarang cerdas dan kritis pasti bisa menilai? Dan bisa membaca apa yang membedakan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa era 45’an.
Perbaiki diri, kreatifasi dan inisiatif sangatlah penting sekali bagi diri seorang mahasiswa, kita mulai dari diri sendiri (ibda’binafsika). Pertanyakan dan selalu pertanyakan, sudahkah kita menjadi benar-benar agen perubahan. Ataukah hanya sebagai mahasiswa “kupu-kupu kertas”-kuliah pulang ngerjain tugas??? Seribu pertanyaan yang selalu membayangi setiap insan mengapa mereka mengemban pendidikan hingga perguruan tinggi.

Em Latif,
Jogja, 9 Mei 2013