“Aku bangga menjadi anak indonesia
Aku bangga menjadi putra bangsa
Aku kibarkan bendera untuk negara tercinta”
Aku kibarkan bendera untuk negara tercinta”
Begitulah yang dikatakan oleh
seorang anak muda kisaran 20 tahun yang bernama SAKA. Saka adalah sosok seorang
remaja yang menginjak masa dewasa dimana masa-masa seumurnya masih senang
nongkrong, ataupun kumpul-kumpul bareng temen-temennya. Namun, saka sangatlah
berbeda dengan anak-anak sebayanya, karena diusia yang terbolang masih sangat
belia dia sudah
harus menjadi tulang punggung keluarganya menghidupi ibunya yang sudah tua meronta dan kedua adik-adikya “Redi dan Whithera”. Ayahnya telah lama meninggal karena membela bangsa indonesia melawan penjajah. Ayahnya bias juga disebut sebagai pahlawan bagi dirinya dan bangsa karena brjuang membela tanah air tercinta, beliau gugur dalam sebuah peperangan. Karena hal tersebut saka mati-matian menghidupi keluarganya, saka juga merangkap sebagai tulang punggung keluarga sekaligus kepala keluarga.
harus menjadi tulang punggung keluarganya menghidupi ibunya yang sudah tua meronta dan kedua adik-adikya “Redi dan Whithera”. Ayahnya telah lama meninggal karena membela bangsa indonesia melawan penjajah. Ayahnya bias juga disebut sebagai pahlawan bagi dirinya dan bangsa karena brjuang membela tanah air tercinta, beliau gugur dalam sebuah peperangan. Karena hal tersebut saka mati-matian menghidupi keluarganya, saka juga merangkap sebagai tulang punggung keluarga sekaligus kepala keluarga.
Setiap hari saka selalu banting
tulang, pagi siang sampai sore, bahkan malamnya dia harus mengajar pada
anak-anak jalanan di bawah jembatan yang kondisisnya sangat kumuh. Meski dalam
proses ajar-mengajarnya tidak seperti di pendidikan formal namun anak-anak
jalanan yang diajar sangatlah ceria, memiliki seorang guru seperti saka. Saka
memng tidak kuliah dia hanya tamatan SMA , tapi saka adalah sosok yang sangat
cerdas dan pintar. Saka juga senang mengajarkan beberapa pengetahuan yag telah
didapat selama dia mengenyam pendidikan walaupun tanpa dibayar, namun dia
dengan senang hati dan ikhlas. Ayahnya pernah berpesan kepada saka
“Nak...janganlah kamu tergoda dengan harta atau wanita, dan jadikanlah bangsa
ini bangsa yang bermartabat dan bermoral”. Karena pesan dan amanah ayahnya
tersebutlah saka banyak belajar untuk mengerti dan memahami lingkungan
masyarakat sekelilingnya.
Ayahnya meninggal karena tertembak
pas jantungnya oleh salah satu tentara penjajah ketika sedang menancapkan sang
saka merah putih diatas istana penjajah, sebagai penanda indonesia harus
merdeka tanpa penjajah yang selalu menindas. Selalu teringat apa yang terjadi
pada ayahnya maka saka mempunyai cita-cita kelak dia akan menibarkan sang merah
putih diatas monas. Karena impiannya itu dia selalu berjuang sekuat tenaga
untuk bisa sampai ke jakarta. Dengan
tekad sangat kuat dan semangat yang menggebu-gebu akhirnya saka berniat ke
jakarta besok pagi. Namun tidak diketahui oleh saka bahwa ibunya mendadak sakit
yang harus dibawa kerumah sakit. Sore itu sehabis pulang bekerja, dan membuka
pintu kamar ibunya, saka kaget ibunya terbaring lemah diatas kasur. Saka pun
langsung bergegas memanggil kedua adiknya untuk segera mengemas perlengkapan
untuk dibawa ke rumahsakait.
Saka pun menutup kembali
keinginannya untuk pergi ke jakarta. Ibunya dirawat dirumah sakit selama hampir
satu minggu, saka dan kedua adiknya setia menunggui ibunya yang tak mampu
apa-apa terbaring lemah diatas sebuah ranjang. Uang yang harusnya dibawa ke
jakarta dan membeli bendera akhirnya tertunda, karena biaya dirumah sakit
sangatlah mahal dan semua yang harus mengurus administrasi rumah sakit adalah
saka sendiri. Meskipun uang yang telah dikumpulkan selama setengah tahun sudah
dikelurkan semua namun itu pun tidak cukup untuk membayar semua biaya di rumah
sakit. Akan tetapi, ada seseorang yang belum pernah dikenal oleh saka
menolongnya, dengan melunasi semua segala administrasi yang ditanggungnya.
Mula-mula saka menolaknya, namun karena kondisi ekonominya dia menerimanya dan
dengan tangis haru saka berterimakasih dengan seseorang yang telah menolongnya
tersebut.
Tanpa bosa-basi sang saka berkenlan
dan mengobrol, ternyata orang yang baru dikenal itu adalah seorang presiden
direktur utama perusahaan ternama di jakarta, yang lagi menjenguk salah satu
keluarganya di rumah sakit tersebut. Saka pun merasa sangat berterimakasih pada
bapak yang telah menolongnya dan saka berjanji akan mengembalikan uang yang
telah diberikan padanya. Selang setelah itu, saka pulang dan tak henti-hentinya
mengucapkan terimakasih banyak kepada seseorang tadi. Saka membawa ibunya
pulang bersama kedua adiknya kembali kerumah. Sampai rumah saka mempersiapkan
semua keperluan yang dibutuhkan untuk kesembuhan ibunya, usaha do'a selalu dia
lakukan setiap harinya demi kesembuhan ibunya.
Saka memutar otaknya lagi, untuk
mengembalikan uang kepada orang yang telah menolongnya serta bagaimana cara
untuk bias pergi ke Jakarta setelah ibunya sembuh. Saka kembali seperti
aktifitas bisanya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Baru tersadar
bahwasanya saka tidak memliliki alamat orang yang telah menolongnya, karena
terlalu pilu terhadap kejadian waktu itu, namun saka hanya mengingat perusahaan
dimana seorang itu bekerja. Namun, itu sangatlah jauh karena berada di jakarta.
Akhirnya saka mencoba menenangkan
diri dan mencoba tabah atas apa yang terjadi dalam kehidupannya. Saka kembali
mengajar di bawah jembatan, yang selama satu minggu ia tinggalkan karena
mengurusi ibunya yang sedang sakit. Anak-anak tersebut kangen dengan saka
karena satu minggu ini mereka tidak berjumpa. Saka dalam mendidik para anak
jalanan ini mengajarkan beberapa hal, seperti; bidang agama, umum, sosial
bahkan cara memainkan alat musik. Saka sangat peduli terhadap mereka dan merasa
senang bias berjumpa anak-anak seperti mereka. Saka sudah menganggap mereka
seperti adiknya sendiri.
Dengan perjuangan saka yang sangat
keras, akhirnya saka sedikit demi sedikit bias mabung uangnya untuk keperluan
sehari-harinya baik itu keluarga ataupun dirinya sendiri. Bukan untuk pergi ke
jakarta uang yang ditabungnya tersebut, namun untuk membeli beberapa alat musik
yang akan digunakan untuk anak didiknya. Alat-alat yang didambakan murid
didiknya pun akhirnya terbeli, dan membuat senang mereka semua. Mereka membuat
sebuah paguyuban musik sanggar dengan beededikasikan pada seni budaya
indonesia. Mereka setiap hari diajakan musik dan selalu belajar, dan
mengahsilkan beberapa lagu yang sangat bagus dan temanya tidak jauh-jauh dari
negara indonesia ini. Nama group musik yang didiknya pun diberi nama “Sanggar
Tiang Negara”.
Disuatu hari yang tidak disdari,
banyak beberapa anggota kamtib pemerintah mengusir mereka dari bawah jembatan,
karena dianggap mengotori pemandangan kota saja. Saka pun bersi keras bahwasanya
kita tidak mengotori kota, hanya kalian saja yang tidak peduli kepada anak-anak
seperti yang hanya dilihat sebelah mata saja. Kami di sini tidak membuat
masalah ataupun pelanggaran tapi mengapa para aparat-aparat negara ini mengusir
dari tempat yang kami tinggali bertahun-tahun ini. Kami hanya berkarya sebagai
anak bangsa, bukan menjadi sampah yang hanya menghabiskan uang negara. Kami
hanya berkarya dan menjadi kebangsaan bangsa tapi mengapa kami dieksploitasi.
Apa ini yang dinamakan keadilan, dimana letak keadilannya. Begitulah persaan
yang disampaikan saka kepada aparat yang menggusurnya, tapi itu tidak
berpengaruh ditelinga aparat yang menjalankan tugasnya. Tanpa belas kasihan
tempat itu pun digusur dan dibersihkan. Perasaan pilu pun dirasakan oleh saka
dan anak didiknya.
Saka dan sanggar tiang negara pun
pindah dan tinggal dirumah saka. Bersama ibu dan kedua adiknya. Ini menjadi
beban lebih bagi saka tapi apa boleh buat saka ikhlas menjalani semua ini.
Setiap hari mereka berlatih di sanggar tiang negara dan mengahsilkan lagu-lagu
yang indah serta gemuruh musiknya enak untuk didengarkan. Banyak masyarakat
sekitar menerima sanggar tiang negara dengan baik, bahakan mereka menikmati
lantunan lagu-lagu yang didendangkan. Bercampur dari musik modern dikolaboraikan
dengan musik tradisional dan hasilnya sangat bagus.
Di hari sabtu, ada brosur yang
berinfokan ada festifal di kota sebagai peringatan hari ulang tahun kota
tersebut ke 378. Tidak berfikir panjang akhirnya sanggar tiang bendera
didaftarkan sebagai salah satu sanggar seni yang ikut meramaikan festifal
dengan orientasi lagu-lagu negara. Ini didedikasikan untuk almarhum ayahnya dan
para pejuang yang telah gugur serta rakyat-rakyat kecil yang tertindas. Dan
hari yang ditunggu pun telah tiba mereka bersiap-siap untuk mengikuti festifal
kota tersebut, dan festifal ini dihadiri orang-orang penting seperti walikota
dan jajarannya. Sekarang giliran sanggar tiang negara dipanggil untuk maju
keatas panggung untuk menampilkan keahliannya, mereka mendendangkan tiga lagu,
satu lagu religi dan dua lagu kebangsaan. Semua orang terpana dan
terkagum-kagum dengan bocah-bocah yang masih belia ini memainkan musik yang
begitu indah dan merasa semangat pejuang mengalir didarah para pendengar.
Seakan- akan meraka siap melawan penjajah dengan semangat yang mengucur deras.
Walikota dan jajarannya pun terkesima dengan aksi mereka diatas panggung, dan
memberi presiasi terhadap aksi mereka diatas panggung.
Sanggar tiang negara pun mendapat
juara satu dalam acara festifal kota itu, dan saka sebagai pembangun sekaligus
ketua sanggar tiang negara sangatlah bangga kepada anak didiknya. Bahwasanya
jangan remehkan atau dipandang sebelah mata, orang-orang disekelilingmu, karena
mereka lah engakau akan diakui.
Setelah festifal tersebut berahir,
banyak orang yang melirik untuk memodali sanggar tiang negra untuk msuk kelbel.
Akan tetapi hal tersebut ditolah dengan halus oleh saka, dengan alasan kami
berdiri senidri dan akan berjuang kembali. Kemana saja anda-anda ini kemarin
waktu banyak orang yang tertindas dan tergusur dari tempat tinggalnya, ketika
ada cahaya yang muncul dari kekumuhan itu kalian berbut ingin memilikinya.
Apakah itu yang kalian dengan peduli atas nama keadilan. Masih banyak
saudara-saudara kita yang masih kekurangan, yang kurang dalam hal pendidikan,
kurang akan akan tempat tinggal, ekonomi dan lain sebaginya. Apakah anda-anda
ini sebagai orang-orang penting dijajaran pemerintahan peduli akan hal seperti
itu. “maaf kami belum bias menerima tawaran dari anda..terimakasih”. Begitulah
yang diucapkan saka bersma sanggar tiang negara kepada orang yang dulu pernah
menyia-nyiakannya.
Dari hari ke hari sanggar tiang
negara ini semakin banyak job manggung dari daerah ke daerah. Dan itu membuat
bangga saka atas kerja keras anak didiknya, itu juga tak luput dari hasil
keringat saka yang tak pernah mengeluh untuk mengajarkan beberapa
pengetahuannya terhadap anak didiknya. Sanggar tiang negara pun semakin tenar
dan banyak pemasukan baik itu finansial ataupun tawaran-tawaran job. Saka pun
bisa menabung dan masih punya janji dengan seorang yang telah menolong dirinya
dan keluarganya untuk mengembalikan uang yang telah diberikan kepada saka. Tak
lupa juga akan cita-citanya tentang bendera yang ingin ia kibarkan.
Hari ini tiba, saka meminta ijin
restu kepada ibunya untuk pergi ke jakarta. Dengan alasan yang kuat disertai
kesungguhan yang tlihat melalui pancaran matanya, ibunya pun mengijinkan dan
memberi restu kepada putranya tersebut untuk pergi kejakarta. Sebelum kejakarta
saka membeli kain warna merah dan putih, untuk dijadikan bendera. Saka pun
menjahit sendiri dengan mesin jahit tua
milik ibunya. Dan teng....teng....teng.... bendera itu pun jadi dengan ukuran
yang sangat besar 10x5 m. itu bendera yang terbesar yang pernah dipegang dan
dibuat sendiri oleh saka, dia pun menagis karena teringat dengan ayahnya
kembali sewaktu meninggal. Ayahnya berjuang mengibarkankan merah putih namun
gugur dalam hal tersebut.
Saka akhirnya berangkat ke jakarta
semdirian stelah berpamitan dengan ibu, kedua adiknya dan anak didiknya di
sanggar tiang bendera. Saka pergi ke jakarta dengan manaiki kereta ekonomi. Dan
saka tiba di jakarta, tujuan pertamanya adalah menemui seseorang yang telah
menolongnya. Saka bertanya kesana-kemari tentang letak perusaan tersebut, dan
ada orang yang baik memberi tahu tempatnya, serta mengantarkan saka ke
kantornya. Saka sangat berterimakasih sudah mau mengantarkan saka sampai
ketempat tujuan. Saka yang sudah sampai dengan wjah yang kupel, rambut
berantakan dan baju yang compang-camping karena perjalanan jauh, dianggap
sebagai gembel. Keamanan tersebut langsung mengusir saka dengan kasar keluar
kantor, namun untungnya bapak yang pernah menolong saka tersebut baru datang
dan melihat bawahannya mengusir saka dengan sangat tida sopan.
Bapak tadi menegur bawahannya
tersebut dan bilang “ada apa ini..kok ribut-ribut”. Ternyata bapak tersebut
masih ingat dengan saka waktu pertama kalinya berjumpa di rumah sakit. Dan
bapaknya pun bertanya kepada saka, kenapa bias sampai kesini. Saka pun
menjelaskan apa tujuannya datang kejakarata dan sangat rinci saka
menjelaskannya. Akhirnya bapaknya tadi mengerti dan sangat kagum dengan saka
seorang anak muda yang penuh integritas tinggi. Bapak yang menolong saka pun
menerima dengan apa yang telah diceritakan saka dari A sampai Z. setelah itu
saka berpamitan dengan bapaknya tak lupa pula mengucapkan terimakasih kepada
bapak tersebut.
Saka melanjutkan perjalanan menuju
monas, dengan tujuan apa yang telah ia cita-citakan. Saka sampai pada halaman
latar monas, dan meminta izin pada pihak pengelola untuk hari ini saja saya
ingin mengibarkan dan melihat sang saka merah putih berkibar tinggi di atas.
Ini merupakan perwujudan kemerdekaan dan kejayaan bangsa indonesia. Namun pihak
pengelola tidak mengijinkan karena dianggap mengganggu pemandangan. Tapi bapak
yang menolongnya sudah berada disitu dan ternyata dia adalah teman dari pihak
pengelola. Dengan dibantu lobi oleh bapaknya saka dijinkan mengibarkan merah
putih dipuncak tertinggi walaupun itu hanya satu hari. Saka pun mengibarkan
sang saka merah putih ditiang tertinggi puncak monas. Saka menagis dan bangga
atas apa yang dilakukannya. Saka mengibarkan bendera merah putih sambil
menyanyikan lagu kebangsaan indonesia “indonesia raya”.
Semua orang di Jakarta khususnya
sekitar monas melihat kibaran bendera merah putih yang begitu besar dan
terkagum-kagum melihatnya, dari keindanya dan keelokannya bendera yang begitu
bagus. Saka bagai seorang pahlawan mirip detik-detik ayahnya mengibarkan
bendera merah putih. Cita-citanya pun tercapai dan sangat senang bias
meneruskan perjuangan ayahnya dulu. Ketika pagi hari saka menurunkan bendera dan memberikan
bendera tersebut kepada pihak pengelola monas sebagai hadiah atas diberi izin
saka bias mengibarkan bendera merah putih. Pihak pengelola pun menerimnya
dengan senang hati da mengabadikannya.
Saka pun senang dan lega setelah
semuanya tercapai walau dengan jalan yang berliku-liku dengan penuh halangan.
Sebelum saka pulang kembali kerumahnya, bapak yang menolongnya menemui saka dan
memberikan tawaran kepada saka di perusahaannya sebagai seorang manajer di
perusahaan tersebut. Bapak penolong itu percaya pada saka karena integritas
yang di miliki oleh saka. Saka pun berfikir sejenak dan akhirnya menerimnya.
Saka pun mohon ijin pulang untuk memberi kabar gembira ini kepada keluarganya.
Sesampainya di rumah saka bercerita panjang lebar pada ibunya dan ibunya
memberi ijin dan do'a restu, serta berpesan dan hati-hati. Sanggar tiang negara
yang diasuh oleh saka pun sekrang menjadi besar dan di kelola oleh keluarganya
dengan kedua adiknya sebagai pengelola utamanya. Saka pun kembali ke jakarta
dan disana saka bekerja sebagai manajer di perusahaan bonafit di jakarta.
Usaha yang abiak, tulus ikhlas akan
menghasilkan hasil yang baik pula. Menolong tanpa pamrih itu yang ada pada
sosok anaka muda bernama saka. Ia mulai dari hal kecil hingga menjadi besar.
Tidak memandang orang dari sebelah mata, dan peduli akan sesama.
SEKIAN......
Oleh :
Mukhamad Latif
Waktu :
Minggu, 13 April 2014
Judul :
KIBARKAN BENDERAKU