Di warung remang pinggiran rerumpunan padi
di bawah cerlang lampu lampion yang perpantulan
menyilaukan
menyinar
wajah di cangkir kecil
yakinkan daku pulang kembali ngopi
kutemukan sebuah kekhusyu'kan
menggali-gali dalam peribadatan seceguk cangkir
terkadang umbar kata mesra sebagai mantra asmara
hingga lupa kan tabiat puisi, tenggelam dasar dalam diam
yang sebenarnya
menyangkal
melwan, dan
menimbulkan bara pemberontan
untuk sujud depan latar singgahsanamu
pantulkan kejernihan wajah, lewat hitammu
kokohkan pegangan di pilar-pilar teguhmu
ditengah keramaian para pemuja, penghambaan kopi
remang berdentum irama
pelan-pelan saja sadarkan akal kesadaranku
mendarat dalam bandara gilaku
dengan desahan menyerap p-sirap gerak bibir
dan kau tunjukan kebersaksian atas syahadat ngopi
"jangan kau telanjangiku dengan seri pertanyaan,
jangan biarkan musnah hanya dalam tatap sebuah tanya
dan terkungkung dalam takaran pikiran
nikmati saja aku; diam pejamkan matamu"
semua muncul berbinar huruf demimi huruf rapi
syuhudiyah ngopi
pengisi puisi qolbi jalankan ibadahmu
dekap erat dipangkuan pojok selir
tempuh sesukamu
sampai kekhusyu'kanmu bergetir diujung ubun bulu kudukmu
menyikap setiap cangkir tadarusmu
Em Latif
Jogja, 11 Juni 2015