Keterbangunanku atas cahaya-cahayamu menyambutku
Di anatara kayu tua yang memeluk menghangatkan
Dibawah beton perisai kegagahan
Seperti gila, tak sadar apa yang ada
Rambut ucel menyapa, sungai sayu mata
Semilir angin lekas angkat bicara lewat celah-celah
Tarikan sinar menghatkan punggung dari belah bambu-bambu ronta
Mengakar, membakar kerdil menyobek urat
Mendaki semu memuncar istana sang pujangga
Terlihat kosar kasir kerusuhan meja
Terawang seorang gadis penghuni tralis besi
Eh,,,berkacamata berkulit sawo matang
Anggukan kepalanya, menyapa muka lusuh ku
Mentari cemburu, dalam hati menggoda
Merampas kebahagiaan bunga-bunga tidur sepanjang perjalanan
Melayang sempoyongan, senyum indah dihadapkan
Permata yang ragu, janganlah cepat mengajal
Bila bunga ini kau rawat, dari benih sebuah cinta
Temukan buah harapan dan masa depan
Bilamana kau siakan, satu kumbang pun tak mau menyapa
Peri penjaga kebahagiaan, luntur meleleh
Akar pun malu tuk tunjukan ranting kesedihan
Sayonara, bukan kata yang ingin kujumpa
Tak pantas lagi mengharap asa
Dan kembali melasup dalam rungsung kayu tua
Jogja, 2015