pagi kutemukan kembali,
setelah ribuan pulau kuarungi yang membuat aku sering melewatkan pagi
saat bahtera-bahtera yang kutumpangi tak pernah mendarat di pulau sunrise
dan saat cabin bahtera sesak dengan makhluk-makhluk malam yang lupa akan pagi
pagi kujumpa kembali,
beberapa waktu yang kutempuh, namun sekali aku tak pernah disapa sang pagi
ombak pun serasa membisik membawa bahtera ini terus mengombang-ngambing ditengah samudera
malam pun tak ingin mendaratkan dalam pesisir dimana sang fajar sudah menghadang
namun apa daya, sisa pelayaran yang membuat semuanya harus mengenang pagi dalam angan
pagi kusapa kembali,
perjumpaan yang membuat haru karena terlalu lama memupuk rindu
sekedar aku buka gerbang bahtera, lekas keluar dari samudera malam
segera menatap permaisuri berkalung embun bersikalung kerudung
ialah pagi yang menjadi permaisuri para sufi
pagi kutatap kembali,
entah berapa kali hitungan waktu, aku tak mampu berjumpa
sampai pada saatnya bahtera yang telah lama bergelora dalam lautan berlabuh pada pagi
mengitari bumi, disaksikan sang bahari
permaisuri pun kembali, didendangkan alunan ayat-ayat suci
semoga semua tetap fitri, dan tetap bersemayam nur illahi
Em Latif
Jogja, 4 Januari 2016