KONTEMPLATIF

Aku angkat kakiku tuk melangkah keluar
Menguak kisi-kisi kehidupan dibalik kokohnya beluarti
Bekal doa dan sebaris pesan dari labu senja

Di tengah jalan aku didatangi cinta
Meminta agar aku singgah dalam pelabuhan
Seraya peri yang ingin menculik dan membawa ke alamnya

Godaan ingin meruntuhkan niat yang dipanjat
Mengalihkan pandangan dari sepasang mata
Tawarkan batu mutiara bergaun sutra

Dalam ketidaksadaranku aku terhela
Mantranya membuatku melayang-layang
Seakan aku hanyut dalam belaian mahesa

Seketika aku dijatuhkan dalam besi bejana
Meruntuhkan riang yang sempat mengguncang
Menyisakan sesak perih setiap aliran darah

Dilambungkan kemudian dijatuhkan
Menambatkan hati yang tak ada arti
Menuai gores teramat dalam sanubari

Aku bersimpuh mengalirkan luluh
Tak terbendung dalam kepedihan mendung
Merana lara dalam balutan dustanya topeng asmara

Apa dikata semua lingkup peristiwa telah melanda
Menghadirkan kenangan sulaman skenario purba
Niat berlawamah malah tersodori bau gundah

Hitungan hari pun tak cukup mengukur
Betapa perih hati yang terlanjur teriris
Betapa tebal sepi yang terus menyelimuti

Dalam sukmaku hanya termangu
Apa ia aku harus terpaku dan terbawa arus derita
Jikalau raga tersiksa tak harus jiwa terus merana

Kisah telah lewat layar baru pun membiru
Cerita pun mulai barganti
Sekdar singgah dalam mimpi yang tak terbeli

Segera mengantih benang yang kusut
Dan kusulam dengan hati berjarum tarjih
Kubentuk secarik kain kutiskan l’m not down on my knees*

Bahwasanya do’a labu tua terus ada
Mengiringi setiap langkah penuh berkah
Bangkit dalam suasana terjepit

Himpitan yang terhapuskan
Kertas hitam terbakar kukubur dalam akar
Kutunaskan dengan kenangan bebuah kebahagiaan

Kelam tak bisa jadi dendam
Kubahasakan dalam rerumpunan kata
Semoga puisi mampu mengampuni

Jalan lurus terhampar dalam garis mata
Memandang cahaya terang arah kaki melangkah
Pijakan puji jalanya suku sebenarnya disana telah ada yang merindu

Em Latif
Jogja, 6 Januari 2016

*Steel Heart-She’s gone