I
Aku sucikan diriku
sebelum peribadatan ngopi dimulai
Nawaitu surbal
qohwah liraf’i hadas sepi wa sunyi
Dengan air mata yang
merundung rindu
Ku basuh setiap
bibirku dengan panas seduhmu
Dengan tiga kecupan
sebagai muqodimah
Sampai rindu yang
terbelenggu kembali haru
kecupan pertama
meruntuhkan segala kangenku padamu
kecupan kedua
menginjak bacaan inti bahwa aku dan kopi mulai bersekutu
kecupan ketiga
mengijabkan do’a-do’a atas nama cinta
II
Dengan menyebut nama
kopi atas pekat dan hitamnya
Aku berlindung dari
marabahaya suatu sepi
Dari atas bumi,
syair tentangmu aku kumandangkan
Dari bawah langit, pujian
namamu aku lantunankan
Mengingat atas sepi
dan sunyi selalu menyelimuti
Jika alam mampu
menjadi saksi atas hal kelam
Maka ngopi mampu
mengobati patah hati
Niscaya ngopi mampu
membawa rizki
III
Saat dadamu mulai
sesak oleh polusi kesepian yang pekat
Ngopi laksana
oksigen yang kau hirup penuh hikmat
Menjadi penyelamat
atas sunyi dan sepi yang menyengat
Dirikanlah ngopi
sebelum waktumu terisi
Sebelum sesalmu
menyelimuti
Sebelum hatimu
merasakan perihnya dunia sunyi
Em Latif
Jogja, 24 Juli 2015