Di antara deretan ‘Ulama di tanah air,
nama Mbah Subkhi tentulah bukan nama yang asing. ‘Ulama yang asli dari
Parakan ini cukup kontras dengan kehidupan di hari tuanya adalah sosok
yang penuh dengan keterusterangan sikap dan ucapan. Orang tuanya adalah
merupakan salah seorang pasukan Diponegoro yang kemudian berjuang dan
menetap di daerah Parakan. Ia adalah salah seorang ‘Ulama yang menonjol
dan sekaligus unik. Di samping lugas dalam berbicara, berani melawan
yang dianggapnya tidak benar, juga mempunyai rasa yang sangat tresno
terhadap umat serta tawadluk. Dengan keteguhan jiwa orang yang menemukan
dirinya sendiri, Mbah Subkhi menjadi sangat dihormati semua orang,
dicintai santri-santrinya, disegani kawan-kawannya dan ditakuti musuh
musuhnya. KH.Subkhi. lebih dikenal dengan nama Mbah Subkhi. Mbah Subkhi
lahir sekitar tahun 1860 dan pernah berguru kepada beberapa Ulama dan
wafat tahun 1959.
KH.
Syaifuddin Zuhri mengisahkan: “Berbondong-bondong barisan-barisan
Lasykar dan TKR menuju ke Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua
gunung penganten sundoro Sumbing..... Diantaranya yang paling terkenal
adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di
bawah pimpinan KH. Masykur.
“Barisan Pemberontak Rakyat
Indonesia” di bawah pimpinan Bung Tomo, “Barisan Banteng” di bawah
pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman,
“Laskar Pesindo” dibawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi.
Sudah beberapa hari ini baik TKR maupun badan-badan kelasykaran
berbondong-bondong menuju ke Parakan……”.
KH. Saefudin Zuhri, mantan
Menteri agama itu mengantar sendiri KH. A.Wahid Hasyim, KH. Zainul
Arifin dan beberapa petinggi negara untuk datang ke Parakan. Mengapa ke
Parakan?
Parakan terkenal dengan kota
bambu runcingnya yang ampuh. Bambu runcing adalah sebatang bambu
berkisar panjangnya kurang lebih dua meter yang dibuat runcing pada
salah satu ujung atau kedua ujungnya. Peralatan yang sederhana ini,
ternyata pada masa perang kemerdekaan telah menjadi senjata massal yang
dipakai rakyat dalam melawan penjajah.
Bambu Runcing pada masa Jepang
juga sudah di gunakan. Menurut sumber sejarah pada masa Jepang
mengadakan pelatihan-pelatihan untuk para anak-anak, remaja dan pemuda
dalam Senendan, senjata yang di pakai untuk latihan antara lain senjata
bambu runcing.
Namun sebelum bambu runcing
digunakan, para santri dan pejuang terlebih dahulu meminta berkah doa
dari kiai di Parakan, terutama Kiai Subkhi. Tidak banyak cerita
mengenai doa apa yang di bacakan oleh Kiai Subkhi. Namun bambu runcing
Parakan menjadi senjata utama sebelum para pejuang berhasil merampas
senjata milik tentara penjajah.
Dan ketika sudah ribuan pejuang
yang datang ke Parakan menemui Kiai Subkhi untuk mencium jemari
tangannya dan meminta do’a, Kiai Subkhi malah bertanya “mengapa tidak
datang kepada Kiai Dalhar, Kiai Hasbullah dan Kiai Siraj?”
Mbah Subkhi, putra salah satu
anggota pasukan Diponegoro yang kemudian berjuang dan menetap di daerah
Parakan adalah kiai yang sangat sederhana dan rendah hati. KH.
Syaifudin Zuhri dalam bukunya berangkat dari Pesantren bercerita, “KH.
Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin dan KH. Masykur pernah juga
mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, KH. Subkhi menangis karena banyak
yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam itu.
“Mendapati pernyataan ini,
tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan
sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bambu Runcing
itu, dan mangatakan bahwa apa yang dilakukannnya sudah benar.”