Urusan hati
disini saya hanya menyentuh satu kata namun bermakna lua yakni “rindu”. Setiap
orang pasti akan, pernah atau sedang mengalaminya, karena ini sudah dikodratkan
seperti itu. Karena aku sendiri juga lagi merakan apa itu “rindu”, yang mana
rindu untuk sang maha pencipta. Tak dipungkiri juga rindu akan kekasih yang
sedang dalam proses penempaan (mencari) belum diperlihatkan, atau sudah
diperlihatkan namun belum tau bahwa dialah yang kulihat. Sungguh lucu hidup
ini, seperti aroma kasturi yang mewangi tapi belum tau dimana sumbernya. Lewat
itu, mungkin lirik lagu karya harry roesli yang dinyanyikan virgiawan listanto
(Iwan Fals) yang berjudul “rinduku” cukup untuk menggambarkan sosok rindu
seorang anak petani mendamba kedatangan mahesa yang kelak kan menjadi peneman
semasa hidup dan mengiringi bersama dalam keabadian tempat yang kekal cipataan
Tuhan.
Tolong rasakan ungkapan hati
Rasa saling memberi
Agar semakin erat hati kita
Jalani kisah yang ada
Ku tak pernah merasa jemu
Jika kau selalu disampingku
Begitu nyanyian rinduku
Terserah apa katamu
Rambutmu…matamu
Bibirmu…kurindu
Senyummu…candamu
Tawamu…kurindu
Beri aku waktu sedikit lagi
Menatap wajahmu
Esok hari ini atau nanti
Mungkin tak kembali
Oleh; Harry roesli
-----------------------------------------
Tolong rasakan ungkapan hati
Rasa saling memberi
Agar semakin erat hati kita
Jalani kisah yang ada
Ya,,Tuhan
menciptakan umatnya dengan hal yang berbeda-beda, ada hitam-putih,
kriting-lurus, gendut-kurus, tinggi-pendek dll. Itu semata-mata Tuhan sangat
cinta pada umatnya, bukan saling membedakan namun semua itu demi kerukunan
bersama lewat kereta hatimu. Tidak untuk saling menggurui, yang berjung debat
menjatuhkan, namun saling berlomba dalam pencapaian menuju cahaya dan
perjalannmu akan mengukir kisah-kisah yang kan menjadi panduanmu kelak.
Demikian pula dengan kekasih, dua orang merajut asmara terkadang lupa akan hal
seperti ini. Ketika masih hijau asmaranya saling memuji, menggombal sana-sini
mencari perhatian akan lawan jenisnya. Namun kereta juga ada stasiunnya, ketika
pada pahit-pahitnya mereka tidak mau mengicipi yang disajikan, ibarat kopi
pahit yang terlalu banyak menghardikknya karena tidak manis. Apa itu!! Tidak
selaras dengan kelompak asmara yang baru mau tumbuh..janji sana-sini hanya
menjadi tinja semata. Tak mau menerima yang pahit, hanya mengicipi yang manis
saja (munafik). Dalam hal seperti ini yang sangat menghawatirkan, bahwasanya
cinta bukan untuk dipilah-pilah, emang pilkada?pilpres? atau sejenisnya, ketika
dipilih karena iming-iming terus dipuja-puja, setelh kepilih dan ada pahitnya,
dicaci. Cinta adalah menerima segalanya, tidak ada memilih pahit atau manis,
tinggal engkau nikmati dan genggam erat cintamu dengan dasaran hatimu yang
paling lembut supaya cahaya-cahaya tak lelah untuk memberi sinar pada cintamu.
Ku tak pernah merasa jemu
Jika kau selalu disampingku
Begitu nyanyian rinduku
Terserah apa katamu
Hati adalah
kunci, akan cinta setiap insan. Bagaimana mungkin orang hidup tanpa orang lain?
Bagaimana mungkin orang tidak mempunyai nurani jika ia masih bisa merakan
rindu? Dan bagaimana mungkin orang buta bisa mem”baca” kalau taka ada hati?
Jadi jika ada kerikil hingga batu kali menghadang jangan ditinggalkan kekasihmu
tuk menghadapi sendirian. Ada gelas bening sedikit saja langsung buat ngacak,
ada rumput hijau masih duduk dipinggir pohon langsung digoda, hingga melupkan
apa yang menjadi janji suci pertama. Jangan sekali-kali engkau mengecewakan apa
yang telah diikrarkan, jika kau menginginkan mendaki gunung asmara. Satu lagi,
ingatlah Tuhan tidak menciptakan satu jiwa dua hati! Maka saat engkau dibuat
berpaling dari makhluk-Nya, engkau sedang diarahkan pada-Nya. Saat seperti ini
nikmatilah kebersamaan dengan-Nya, matikan kecenderunganmu lekas hidupkanlah kesadaranmu.
Rambutmu…matamu
Bibirmu…kurindu
Senyummu…candamu
Tawamu…kurindu
Semua itu
hanya perumpaan akan sifat-sifat yang ada pada-NYa. Dan semua adalah secumlik
kecil dari yang maha segalanya. Bagaimana engkau tidak akan rindu jika jiwamu
melayang entah kemana? Bagaimana engkau tidak akan rindu jika hatimu masih bisa
merakan rasa? Bagaimana engkau tidak rindu jika tiada tara yang merindukanmu
selain-Nya? Sungguh aku merindukannya, dari tidurku hingga mataku masih tetap
menyala. Lewat sujud-sujudku aku memanggil nama-Mu, lewat tafakurku aku
merindukan-Mu, dan setiap langkah perjalanan waktu ku sebut nama-Mu. Jika harus
begitu, bagimana aku tak merindukan-Mu? Sungguh buta hatimu jika kau tak bisa
merasa, bahkan dusta jika harus berpaling dari-Nya.
Beri aku waktu sedikit lagi
Menatap wajahmu
Esok hari ini atau nanti
Mungkin tak kembali
Bagaimana hatimu bisa menangkap
akan cahaya yang datang bila dirimu masih terpikat baying-bayang? Saadarlah,
dunia hanyalah keindahan yang menipu buka oase dipadang sahara. Bila engkau
disibukkan olehnya (dunia) dan hatimu terpincu pikatannya, maka engkau akan
habis kehilangan kesempatan memperbaiki lakumu. Engkau memang niscaya hidup
didunia yang tidak baqo’ ini, dank arena niscayanya pula engkau disibukkan oleh
beberapa urusan apa yang ada didalamnya. Namun, jangan sampai “lupa” engkau
harus segera pulang. Dan engkau butuh bekal untuk menempuh perjalanan kekampung
halaman. Nicayalah pula yang akan membawa perubahan dan hati hanya bisa
menerima cahaya-Nya saat engkau lepas dari belenggu bayang-bayang. Masihkah kau
membutuhkan jalan waktu? Atau kah semua akan menghilangkan?...benderanglah
hidupmu.
Ditulis, dalam keadaan terpuruk;
karena mencoba menembus puncak pikiran sing lagi mumet mencari kekasih.
Merindukan kekasih….di madrasah cinta, bersama alunan musik mesra.
Em Latif
Jogja, 6 Februari 2015