dari kenangan-kenangan
di daratan yang penuh kehampaan
Aku tak mendengar
aku tak melihat
sosok perempuan yang diharapkan
Di angganku hanya kekosongan
yang entah dipapah kemana
satu cinta untuk dilabuhkan
Seikat bunga mawar
satu tanda cinta
masih rapih tersimpan saksama
Tiada guncang, tiada mengambang
akankah bersedia terbang?
pada perempuang yang tersayang
Seperempat abad di dalam goa
masih adakah yang mau membuka mata
membangun cerita kendati lewat nama
Acap aku bermimpi
aku di hampiri sebuah hati
menuntun melangkah ke sebuah kursi
Mengisi hari-hari
menjadi kata-kata dalam puisi
termin masa dalam sebuah mimpi
Bila mana aku terjaga
itu karena terusik cintanya
yang mengulurkan tangan mengambil zahra
Bila mana aku membuka mata
itu karena kerinduan padanya
yang menjadi tanda-tanda dhakhol cinta
Bila mana aku membangun kata
itu karena kalimat yang ku lafal secara hikmat
''ku pinang kau dengan cinta, bermahar asmara''
di saksiakan jutaan pasang mata
di amini para penghuni surga
Em Latif
Jogja, 21 Februari 2017