naghma III



Sedang ada rasa yang meronta
ingin lekas di lafal dalam kata
namun hati masih enggan mengijinkan
lalu apa dayaku atas semua ini?

Sapaku padamu
muqodimah benang merah aku naghma padamu
kendati kamu memberi sahutan
aku tak ingin mengenalmu, biarlah semua ini memgalir
lamun teruntukmu aku tetap mengelar sajadah panjang
untukmu melabuhkan cinta di pelukanku

Bergulirnya waktu
empat hari lalu aku baru sadar akan kehadiranmu
perantara aksara di cangkirmu
berbalas salam yang khusyu'
sedikit mengundang hati untuk mampu mengenali
bilamana cincin ada dipucuk cangkir
itu akan lebih mengukir
cakapnya yang sempat bergulir dari bibirnya

Perasaanku berdebar-debar
seluruh tubuhku diguncang rasa gemetar
bila aku terus menatapmu
dan di selang bersua denganmu
aku terus ditemani bayang-bayang akan wajahmu naghma
mengisi malamku, menjadi purnama dalam gulita

Pada azamku,
ingin sekali aku menyelam di kedalamanmu
namun, itu tak mungkin karena samuderamu masih meninggikan ombak
Pada niatku,
ingin sekali aku menyematkan cicin
di jari manismu naghma...
sungguh ku ingin menghalalkanmu

Em Latif
Jogja, 18 Februari 2017